PETISI RAKYAT INDONESIA TRAGEDI KEMANUSIAN PEMILU 2019

149

Jakarta,iPers.com – Pemilu 17 April 2019 telah terselenggara dengan aman, namun Penyelenggara Pemilu (KPU) telah ternoda dengan meninggalnya 700 Petugas KPPS yang tidak wajar, serta ditambah lagi peristiwa pasca pengumunan Rekaputulasi Suara oleh KPU tanggal 20 Mei, telah terjadi kerusuhan di tengah tengah aksi damai di depan Bawaslu tanggal 21-22 Mei, ” kerusuhan terjadi telah meminta 9 korban meninggal dunia yang sangat mengenaskan dan ratusan orang masuk rumah sakit”, ujar Pembina LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) Wibisono,SH,MH menyatakan ke media di jakarta (28/5/2019)

Oleh Karena itu ,kami LPKAN (Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara) bersama APDI (Aliansi Penggerak Demokrasi Imdonesia) dan IKB-UI (Ikatan Keluarga Besar- Universitas Indonesia), telah membuat Konsensus Bersama untuk menyikapi Tragedi Kemanusiaan ini sebagai berikut:

Konsensus Nasional

Kronologis Peristiwa Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019 di Indonesia :

  1. Pemilu 2019 dilaksanakan tanggal 17 April 2019.
  2. Pemilu yang dilaksanakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) diduga tidak luber, jujur dan adil,karena banyak laporan kecurangan dari masyarakat.
  3. Telah terjadi Meninggalnya Petugas Penyelenggara pemilu mencapai 700 orang, sedangkan yang sakit 4.354 orang dalam keadaan tidak wajar.
  4. Korban meninggal kurang lebih 700 orang petugas Pemilu dinyatakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) karena faktor kelelahan.
  5. KPU (Komisi Pemilihan Umum) tidak mengumumkan nama nama Korban ke masyarakat sesuai Undang Undang yang berlaku.
  6. KPU (Komisi Pemilihan Umum) telah lalai dan masuk kategori (Crime Against Humanity) atau Kejahatan Kemanusian.

Maka dari itu, Berdasarkan Undang Undang Dasar 45 dan Pancasila sila ke dua (Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab), Kami PESERTA KONSENSUS NASIONAL bersama 4000 Tokoh Nasional dan elemen masyarakat yang Peduli Kemanusiaan, Menyatakan PETISI RAKYAT untuk Tragedi Kemanusiaan wafatnya 700 Petugas Pemilu 2019 dan Tragedi tewasnya 9 orang Akibat Kerusuhan 21-22 Mei 2019, yang berbunyi :

  1. Kami merasa prihatin dan terpanggil untuk berperan aktif dalam pengungkapan Misteri Korban meninggalnya Petugas Penyelenggara Pemilu 2019.
  2. Kami Mendesak Pemerintah terutama Komnas HAM untuk membentuk TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta).
  3. Kami mendesak Pemerintah untuk Mengumunkan Para Korban petugas KPPS ke Publik agar tidak terjadi keresahan dimasyarakat.
  4. Kami menuntut Pemerintah dan Penyelenggara Pemilu (KPU) untuk bertanggungjawab atas meninggalnya petugas pemilu merupakan pelanggaran HAM Berat,dan diseret ke ranah pidana,apabila terbukti bersalah.
  5. Kami akan melaporkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) atas Tragedi kemanusiaan ke Komnas HAM Indonesia dan Aparat hukum yang terkait.
  6. Telah terjadi Kerusuhan dijakarta pada tanggal 21-22 mei 2019,diduga ada perbuatan anarki dari sekelompok massa ditengah tengah aksi Damai, sehingga terjadi bentrok dengan aparat Polisi yang diduga menggunakan peluru tajam,Korban meninggal 9 orang dan ratusan dirawat di Rumah Sakit.

Sementara itu MER-C memilih melaporkan ke ICC (International Crime Court) atau Mahkamah Pidana Internasional dan ICJ (International Court of Justice) alias Mahkamah Internasional karena dinilai paling bisa menangani kasus seperti ini,ujar Jose Risal

Jose mengatakan kasus serupa dengan kekerasan aparat ini, juga terjadi pada kasus penembakan kapal kemanusiaan Mavi Marmara oleh pihak keamanan Israel. Kasus itu diselesaikan di ICC.

Jose mengatakan, di kerusuhan 21-23 Mei lalu, aparat kepolisian telah melakukan tindakan di luar batas. MER-C mencatat setidaknya ada lima jenis kekerasan yang dilakukan oleh aparat, di antaranya menembaki anak kecil, masuk ke masjid mengejar pendemo, hingga menembak orang yang sudah jatuh.

Jose mengungkapkan, di setingkat Konvensi Jenewa yang mengatur hukum perang saja, menyerang anak kecil dan merusak rumah ibadah adalah sebuah pelanggaran. “Ini dalam perang dihormati, apalagi (dalam kasus) ini cuma (terjadi dalam) demonstrasi,” kata Jose.

Saat ini, Jose mengatakan MER-C telah memiliki sejumlah bukti yang ia dapat langsung dan dari laporan. Mereka memiliki selongsong peluru karet yang diambil dari tubuh korban, hingga butir peluru tajam yang belum digunakan yang ditemukan di lokasi kerusuhan,pungkasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here